sumber: http://www.burahol.com/2011/07/ini-dia-metode-ampus-mengusir-kejenuhan.html
Diposting oleh
Moh Faisol
di
13.49
0
komentar
Untuk menjadi pribadi yang sehat dapat dimulai dengan gaya hidup sehat misalnya dengan mengkonsumsi makanan sehat seperti pola empat sehat lima sempurna, kemudian juga bisa dengan berolahraga dengan teratur dan berbagai kiat lainnya.
Demi membuat keluarga sehat, kita harus membiakan gaya hidup sehat sejak dini. Budaya sehat dapat dimulai dai hal-hal yang kecil seperti menjaga kesehatan organ tubuh kita. Contohnya saja yaitu gigi. Banyak orang masih belum menyadari bahwa untuk menjaga kesehatan gigi, bukan hanya menjaga kebersihannya saja, namun juga kebiasaan kita dalam menjaga kesehatan gigi.
Kebiasaan kita yang kurang baik bagi kesehatan gigi kita misalnya yaitu menyikat gigi terlalu keras karena mereka menganggap kalau disikat semakin keras maka gigi akan semakin bersih. Padahal itu malah keliru, malah dapat menyebabkan gigi menjadi sensitive dan bisa membuat gusi kita berdarah. Tentu saja hal ini kurang baik bagi kesehatan gigi kita.
Selain menyikat gigi terlalu keras, juga ada beberapa penyebab lainnya seperti memakan es batu. Memakan es batu membuat gigi kita menjadi rapuh dan mudah sakit, apalagi setelah kita memakan makanan yang panas. Jika dibiasakan terus, kesehatan gigi kita akan menjadi lemah dan mudah patah.
Seringkali kita melihat di lingkungan sekitar kita kalau masih banyak orang yang menggunakan gig mereka untuk hal yang bukan fungsinya, seperti memutuskan benang, membuka benda-benda yang keras atau juga menggigit kuku jari tangan kita. Kebiasan buruk seperti itu dapat menjadikan gigi kita kurang sehat.
Oleh sebab itu, saya sarankan sejak sekarang, perhatikanlah kebiasaan-kebiasaan kita mulai dari yang paling kecil. Karena berbagai kebiasaan tersebut bisa sangat mempengaruhi gaya hidup kita dan kesehatan kita. Cobalah biasakan pola hidup sehat bersama keluarga Anda.
Diposting oleh
Moh Faisol
di
13.48
0
komentar
Negara yang terkenal dengan julukan matahari terbit ini dikenal sebagai negara yang maju dalam berbagai macam pencapaian. Dan bukan hanya dalam hal Teknologi saja, namun juga dalam hal perdagangan dan industri. Tanpa harus kehilangan nilai-nilai tradisi oleh warisan budaya leluhur mereka.
Kemampuan Bangsa ini untuk maju dan berkembang, patut menjadi contoh oleh bangsa-bangsa lainnya, Tradisi yang dilakukan turun temurun ini patut diberikan apresiasi contohnya saja tradisi yang tetap dilestarikan dan terjaga yaitu tradisi minum teh.
Bagsa Jepang terkenal sebagai bangsa yang ulet dan produktif di dunia.Hal ini tercatat pada tahun 1945 negara jepang hancur lebur oleh bom atom yang menghancurkan kota hirosima dan nagasaki, namun dengan keuletannya mereka mampu bangkit lagi dalam kurun waktu yang tidak lama.
Dalam Hal masakan, bangsa jepang tidak hanya menciptakan menu-menu yang digali dari tradisi ke tradisi, tapi juga memiliki tradisi sopan santun ketika berada di meja makan, bangsa jepang sangat memegang teguh tradisi itu.
Beberapa sopan santun itu diantaranya dilarang memegang mangkok nasi dan sumpit dengan tangan yang sama di waktu bersamaan,memmindahkan mangkok atau menggerakan mangkok nasi dengan sumpit, mengacak-acak ataupun menusuk-nusuk makanan dengan sumpit untuk dimakan,mengali kebagian bawah makanan dengan sumpit hanya untuk mecari menu makanan yang paling lezat. Begitulah tradisi yang tidak dibiasakan oleh masyarakat jepang dalam hal di meja makan.
Masakan jepang memiliki khas yang tercermin dari kebudayaan dan tradisi masyarakatnya, Seperti sushi misalnya. Makanan asal jepang yang berbahan dasar ikan metah yang dibentuk bersama nasi dan sayuran ini sangat menjelaskan dengan sisi kebudayaan jepang yang menggemari makanan ikan mentah, Lantaran banyak nilai kandungan gizi yang sangat baik untuk kecerdasan .
Ada lagi masakan hasil kombinasi, yakni sarada udon, ini merupakan makanan barat yang dicampur bahan makanan yang unik di hepang. Kari dan anpan . Makanan khas jepang yang berasal dari luar negri tapi dibuat dengan resep yang sudah diubah engan resep sesuai resep lokal, seperti ramen dan gyoza.
Karakter masakan jepang yang sangat khas jelas memberikan perbedaan tersendiri dari negara lainnya,bahan masakan jepang adalah beras,sayur dan kacang-kacangan dan hasil laut. Masakan jepang mengenal 5 bumbu yang harus dimasukan secara erurutan yakni, sa-shi-su-se-so yang merpakan singkatan dari:
Makakan utama jepang terdiri dari nasi,sup dan lauk,kecuali pada acara jamuan makan kaiseki, masakan jepang juga tidak mengenal tahapan dalam peyajian.Melainkan dihidangkan semuanya sekaligus.
Aneka Ragam Masaka Jepang
Berikut ini adalah aneka ragam masakan jepang yang sudah terkenal diseluruh penjuru dunia:
Sushi
Sushi termasuk makanan jepang yang terbuat dari ikan mentah dan digulung bersama nasi dan sayuran.yang sebenarnya bisa saja dimakan langsung menggunakan tangan (tanpa sumpit) tapi sebaiknya tetap gunakan sumpit jika sushi disajikan untuk disantap bersama-sama.
Nabe
Nabe, adalah jenis masakan Jepang yang dimasak dan dihidangkan di dalam panci besar. Dalam bahasa Jepang, nabe berarti panci. Panci diletakkan di atas kompor kecil atau plat pemanas yang ada di atas meja. Sambil dimasak menggunakan panci atau wadah dari keramik bernama donabe, dan makanan dihidangkan di atas meja makan langsung bersama pancinya.
sashimi
Sashimi merupakan makanan Jepang berupaikan laut yang diris tipis-tipis dan langsung dimakan dalam keadaan mentah dengan kecap asin, parutan jahe, dan wasabi.
Donburi
dalah makanan Jepang berupa nasi putih dengan berbagai macam lauk di atasnya seperti ikan, daging dan sayur-sayuran berkuah yang dihidangkan di dalam mangkuk besar yang juga disebut donburi. Kuah untuk donburi bergantung pada jenis makanan, tapi pada umumnya berupa dashi dicampur kecap asin dan mirin.
Jika anda belum memiliki kesempatan pergi ke Jepang untuk menikmati kulinernya, anda tidak perlu khawatir, pasalnya hampir semua masakan jepang terdapat di kota-kota besar indonesia, terutama di Jakarta.
gambar: www.google.com
Diposting oleh
Moh Faisol
di
13.46
0
komentar
Pada tahun 30 Hijri atau 651 Masehi, hanya berselang sekitar 20 tahun dari wafatnya Rasulullah SAW, Khalifah Utsman ibn Affan RA mengirim delegasi ke Cina untuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini, para utusan Utsman ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam. Sejak itu para pelaut dan pedagang Muslim terus berdatangan, abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi dari negeri nan hijau ini sambil berdakwah.
Lambat laun penduduk pribumi mulai memeluk Islam meskipun belum secara besar-besaran. Aceh, daerah paling barat dari Kepulauan Nusantara, adalah yang pertama sekali menerima agama Islam. Bahkan di Acehlah kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri, yakni Pasai. Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H / 1292 M, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah, pengembara Muslim dari Maghribi., yang ketika singgah di Aceh tahun 746 H / 1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi'i. Adapun peninggalan tertua dari kaum Muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa komplek makam Islam, yang salah satu diantaranya adalah makam seorang Muslimah bernama Fathimah binti Maimun. Pada makamnya tertulis angka tahun 475 H / 1082 M, yaitu pada jaman Kerajaan Singasari. Diperkirakan makam-makam ini bukan dari penduduk asli, melainkan makam para pedagang Arab.
Sampai dengan abad ke-8 H / 14 M, belum ada pengislaman penduduk pribumi Nusantara secara besar-besaran. Baru pada abad ke-9 H / 14 M, penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Para pakar sejarah berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk Nusantara secara besar-besaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum Muslimin sudah memiliki kekuatan politik yang berarti. Yaitu ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon, serta Ternate. Para penguasa kerajaan-kerajaan ini berdarah campuran, keturunan raja-raja pribumi pra Islam dan para pendatang Arab. Pesatnya Islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu / Budha di Nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya dan Sunda. Thomas Arnold dalam The Preaching of Islam mengatakan bahwa kedatangan Islam bukanlah sebagai penakluk seperti halnya bangsa Portugis dan Spanyol. Islam datang ke Asia Tenggara dengan jalan damai, tidak dengan pedang, tidak dengan merebut kekuasaan politik. Islam masuk ke Nusantara dengan cara yang benar-benar menunjukkannya sebagai rahmatan lil'alamin.
Dengan masuk Islamnya penduduk pribumi Nusantara dan terbentuknya pemerintahan-pemerintahan Islam di berbagai daerah kepulauan ini, perdagangan dengan kaum Muslimin dari pusat dunia Islam menjadi semakin erat. Orang Arab yang bermigrasi ke Nusantara juga semakin banyak. Yang terbesar diantaranya adalah berasal dari Hadramaut, Yaman. Dalam Tarikh Hadramaut, migrasi ini bahkan dikatakan sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Hadramaut. Namun setelah bangsa-bangsa Eropa Nasrani berdatangan dan dengan rakusnya menguasai daerah-demi daerah di Nusantara, hubungan dengan pusat dunia Islam seakan terputus. Terutama di abad ke 17 dan 18 Masehi. Penyebabnya, selain karena kaum Muslimin Nusantara disibukkan oleh perlawanan menentang penjajahan, juga karena berbagai peraturan yang diciptakan oleh kaum kolonialis. Setiap kali para penjajah - terutama Belanda - menundukkan kerajaan Islam di Nusantara, mereka pasti menyodorkan perjanjian yang isinya melarang kerajaan tersebut berhubungan dagang dengan dunia luar kecuali melalui mereka. Maka terputuslah hubungan ummat Islam Nusantara dengan ummat Islam dari bangsa-bangsa lain yang telah terjalin beratus-ratus tahun. Keinginan kaum kolonialis untuk menjauhkan ummat Islam Nusantara dengan akarnya, juga terlihat dari kebijakan mereka yang mempersulit pembauran antara orang Arab dengan pribumi.
Semenjak awal datangnya bangsa Eropa pada akhir abad ke-15 Masehi ke kepulauan subur makmur ini, memang sudah terlihat sifat rakus mereka untuk menguasai. Apalagi mereka mendapati kenyataan bahwa penduduk kepulauan ini telah memeluk Islam, agama seteru mereka, sehingga semangat Perang Salib pun selalu dibawa-bawa setiap kali mereka menundukkan suatu daerah. Dalam memerangi Islam mereka bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan pribumi yang masih menganut Hindu / Budha. Satu contoh, untuk memutuskan jalur pelayaran kaum Muslimin, maka setelah menguasai Malaka pada tahun 1511, Portugis menjalin kerjasama dengan Kerajaan Sunda Pajajaran untuk membangun sebuah pangkalan di Sunda Kelapa. Namun maksud Portugis ini gagal total setelah pasukan gabungan Islam dari sepanjang pesisir utara Pulau Jawa bahu membahu menggempur mereka pada tahun 1527 M. Pertempuran besar yang bersejarah ini dipimpin oleh seorang putra Aceh berdarah Arab Gujarat, yaitu Fadhilah Khan Al-Pasai, yang lebih terkenal dengan gelarnya, Fathahillah. Sebelum menjadi orang penting di tiga kerajaan Islam Jawa, yakni Demak, Cirebon dan Banten, Fathahillah sempat berguru di Makkah. Bahkan ikut mempertahankan Makkah dari serbuan Turki Utsmani.
Kedatangan kaum kolonialis di satu sisi telah membangkitkan semangat jihad kaum muslimin Nusantara, namun di sisi lain membuat pendalaman akidah Islam tidak merata. Hanya kalangan pesantren (madrasah) saja yang mendalami keislaman, itupun biasanya terbatas pada mazhab Syafi'i. Sedangkan pada kaum Muslimin kebanyakan, terjadi percampuran akidah dengan tradisi pra Islam. Kalangan priyayi yang dekat dengan Belanda malah sudah terjangkiti gaya hidup Eropa. Kondisi seperti ini setidaknya masih terjadi hingga sekarang. Terlepas dari hal ini, ulama-ulama Nusantara adalah orang-orang yang gigih menentang penjajahan. Meskipun banyak diantara mereka yang berasal dari kalangan tarekat, namun justru kalangan tarekat inilah yang sering bangkit melawan penjajah. Dan meski pada akhirnya setiap perlawanan ini berhasil ditumpas dengan taktik licik, namun sejarah telah mencatat jutaan syuhada Nusantara yang gugur pada berbagai pertempuran melawan Belanda. Sejak perlawanan kerajaan-kerajaan Islam di abad 16 dan 17 seperti Malaka (Malaysia), Sulu (Filipina), Pasai, Banten, Sunda Kelapa, Makassar, Ternate, hingga perlawanan para ulama di abad 18 seperti Perang Cirebon (Bagus rangin), Perang Jawa (Diponegoro), Perang Padri (Imam Bonjol), dan Perang Aceh (Teuku Umar).
sumber: http://www.ummah.net/islam/nusantara/sejarah.html
(Bersambung)
Diposting oleh
Moh Faisol
di
19.43
0
komentar
Saat usaha untuk memiliki anak tidak juga membuahkan hasil, banyak perempuan akhirnya melimpahkan semua kesalahan pada dirinya sendiri. Hal ini juga banyak dipengaruhi oleh faktor budaya yang meyakini bahwa masalah kesuburan identik dengan masalah khas perempuan. Tambahan lagi, sistem reproduksi wanita lebih kompleks daripada pria sehingga selalu ada kemungkinan salah satu elemennya ternyata bermasalah. Singkat kata, perempuan sering dianggap sebagai penyebab utama dari hadir atau tidaknya seorang anak dalam keluarga.
Kenyataannya, menurut Joshua U Klein, MD, seorang ahli obstetri dan ginekologi dari Columbia University Medical Center, New York City, pria juga dapat menjadi penyebab pasangan tidak memiliki anak. Masalah pada sperma pria, seperti jumlah yang terlalu sedikit ataupun kondisinya yang abnormal atau tidak sehat, dapat menimbulkan problem utama dalam masalah infertilitas, bahkan hingga 25-35 persen. Beberapa penelitian juga memperlihatkan, belakangan ini infertilitas pada pria makin naik angkanya. Para ahli belum mendapatkan penyebabnya secara spesifik, tetapi beberapa teori menegaskan bahwa paparan dari lingkungan sangat memainkan peranan.
Dr Klein mengatakan, paduan antara kualitas sperma yang kurang baik dari sisi pria dengan masalah kesuburan pada wanita dapat membuat kehamilan sangat sulit terjadi secara alami. Bila ini terjadi pada Anda, ada baiknya Anda maupun pasangan meluangkan waktu untuk menjalani pemeriksaan secara lebih khusus, termasuk di dalamnya analisis terhadap cairan semen. Jika memang setelahnya terdeteksi adanya hal yang tidak normal, ujar Klein, Anda dan pasangan dapat mulai mempertimbangkan untuk memiliki anak melalui program bayi tabung ataupun lewat adopsi.
sumber: http://female.kompas.com/read/2011/07/05/18415442/Belum.Hamil.Juga.Berhentilah.Menyalahkan.Diri
Diposting oleh
Moh Faisol
di
19.28
0
komentar

Diposting oleh
Moh Faisol
di
15.00
0
komentar
Kompas.com - Meskipun orangtua wajib memperhatikan tumbuh kembang buah hatinya, namun orangtua sebaiknya tidak terlalu panik dan berasumsi sendiri jika di usia 2 tahun si kecil belum mahir bicara.
Sepanjang tidak ada tanda-tanda keterlambatan lain pada perkembangannya, orangtua bisa menunggu kemampuan bicara sambil terus menstimulasinya hingga anak berusia 5 tahun.
Hal tersebut diungkapkan Andrew Whitehouse, psikolog anak dari University of Western Australia. Dalam riset yang dimuat dalam jurnal Pediatrics ia menyebutkan, anak yang terlambat bicara di usia 2 tahun memang cenderung memiliki masalah emosional dan perilaku. Namun hal tersebut lebih disebabkan karena rasa frustasinya tidak bisa berkomunikasi.
Setelah usia 5 - 17 tahun, mayoritas anak-anak yang pernah terlambat bicara tersebut memiliki perilaku yang sama seperti halnya anak-anak yang perkembangan bicaranya sudah pesat di usia 2 tahun.
"Walau demikian hasil studi ini menunjukkan jika keterlambatan bicara itu menetap sampai anak usia sekolah, mereka juga beresiko mengalami gangguan psikiatri," kata Wshitehouse.
Dalam penelitiannya, Whitehouse melakukan studi prospektif pertama mengenai perkembangan bicara dan perilaku. Ini berarti ia dan timnya merekrut para relawan penelitian sejak bayi kemudian mengikuti perkembangan anak-anak itu sampai mereka usia 17 tahun.
Anak-anak yang menjadi responden dalam penelitian ini lahir di Perth, Australia, antara tahun 1989 dan 1991. Orangtua mereka diminta mengisi kuesioner saat si anak berusia 2 tahun, kemudian di usia 5, 8, 10, 14, dan 17.
Hasil penelitian menunjukkan anak-anak yang terlambat bicara di usia 2 tahun, atau kemampuan bicara mereka 15 persen lebih rendah dibanding anak lain di usia sama, memiliki gangguan emosional lebih tinggi. Namun di usia 5 tahun, anak-anak itu sudah mengatasi gangguan emosional dan perilakunya.
"Begitu anak yang terlambat bicara ini sudah mampu mengejar ketertinggalannya dalam berkomunikasi, masalah emosional dan perilaku itu sudah tak terlihat," katanya.
Ia menambahkan, keterlambatan bicara bukanlah faktor timbulnya perilaku kecemasan pada anak. Kendati demikian, para orangtua tetap disarankan untuk memberikan stimulasi bahasa pada anaknya.
"Itu berarti orangtua harus lebih banyak menghabiskan waktunya dengan anak untuk berkomunikasi, bermain bersama, membacakan cerita, serta berinteraksi sesuai level anak," katanya.
Diposting oleh
Moh Faisol
di
14.34
0
komentar